Mengetahui Budaya Pacaran yang ada di Jepang

Tradisi yang ada di Jepang baik itu tradisi yang berkaitan dengan makan atau sopan santun, Jepang juga terkenal dengan memiliki banyak budaya unik. Keunikan itu juga termasuk ke dalam beberapa aspek budaya berpacaran yang ada di Jepang yang sangat sedikit bisa untuk dipahami oleh kebanyakan orang. Kebudayaan yang ada di Jepang bukan hanya apa yang ada di Jepang saja tetapi juga masih banyak lagi.

Bagaimana budaya pacaran yang ada di Jepang dari sudut pandang wanita Jepang, apakah kalian penasaran bagaimana dari sudut pandang nya wanita Jepang nya langsung? Berikut ini budaya pacaran dari sudut pandang wanita Jepang langsung.

Perlu Adanya Pernyataan Perasaan

Dalam banyak situasi, ketika pasangan kekasih Jepang mulai berpacaran, hubungan itu diawali oleh “pernyataan perasaan” atau “kokuhaku” dalam bahasa Jepang. Ini adalah momen ketika salah satu pihak menyatakan perasaannya kepada seseorang dan memintanya untuk menjadi kekasih. Dari sinilah hubungan tersebut dimulai.

Sebaliknya, alih-alih meminta konfirmasi tentang perasaan pasangan mereka, pasangan Barat cenderung melakukan sejumlah kencan terlebih dahulu dan secara bertahap membangun kesadaran bersama bahwa mereka berpacaran. Karena ada beberapa orang di Barat yang mungkin berpikir mereka memiliki kesempatan (untuk mengarah kepada suatu hubungan atau hanya sekedar untuk one night stand relationship) jika seseorang setuju untuk minum kopi bersama mereka?! Di Jepang, orang sering pergi makan siang atau minum teh bersama hanya sebagai teman. Itulah sebabnya mengapa di Jepang, jika Anda tidak menyatakan perasaan dan mengakui perasaan satu sama lain, Anda mungkin tidak akan pernah tahu kapan hubungan sebagai sepasang kekasih benar-benar dimulai.

Pasangan Kekasih Lebih Suka Membagi Tagihan Jajan Mereka

Hal ini dapat bervariasi antara generasi tangkasnet terbaru dan daerah, atau antara pasangan itu sendiri. Namun, ada tren di kalangan pasangan generasi muda untuk membagi tagihan atau patungan pada saat berkencan sebagai perkembangan hubungan mereka. Perlu diketahui, hal itu dilakukan bukan karena orang Jepang pelit! Sebaliknya, orang Jepang tumbuh dengan pola pikir bahwa membagi sesuatu secara adil membuat hal-hal menjadi seimbang dan meningkatkan hubungan pribadi. Ada perasaan bahwa pasangan harus berbagi hal yang sama satu sama lain. Kabarnya, banyak pria yang memilih untuk membayar seluruh tagihan pada momen-momen spesial, seperti Natal, ulang tahun, atau anniversary.

Pergi Seharian / Kencan di Akhir Pekan

Mereka biasanya bertemu untuk makan siang atau hang out selama beberapa jam sambil minum kopi, makan, atau jalan-jalan. Tentu saja, orang Jepang juga melakukan hal itu ketika berkencan, tetapi mereka biasanya menghabiskan waktu bersama lebih lama. Acara pokok dalam kencan orang Jepang di antaranya adalah mengunjungi taman hiburan, pergi berbelanja, atau melihat pertunjukan kembang api. Itu pula yang menjadi alasan mengapa orang Jepang merencanakan kencan di akhir pekan, yang umumnya berlangsung selama setengah atau satu hari. Disisi lain, beberapa orang mungkin berpikir bahwa makan siang atau bertemu di kafe saja sudah cukup.

Tidak Menunjukan Kemesraan di Publik 

Anda pasti sering melihat pasangan kekasih di Barat menunjukkan kemesraannya di publik dengan saling berpelukan atau bercumbu. Secara umum, pasangan Jepang mungkin banyak yang berpegangan tangan, tetapi biasanya tidak bercumbu di publik atau mengumbar kemesraan yang berlebihan.

Dari perspektif penulis, ada dua alasan yang bisa menjelaskan hal itu. Pertama, orang Jepang cenderung lebih menghargai privasi, dan menghindari PDA (Public Display of Affection) akan melindungi hubungan itu sendiri. Kedua, sebagian besar orang akan memandang pasangan tersebut tidak memiliki moral publik, dan ada pula pasangan yang merasa bahwa PDA membuat orang-orang di sekitar menjadi tidak nyaman.

Tidak Mengatakan Cinta dengan Kata-kata

Orang Jepang memang pemalu dan tidak bisa langsung mengatakan “I love you” sebebas orang-orang di Barat. Biasanya, orang mengerti bahwa pasangan mereka tahu bagaimana perasaan mereka, meskipun tidak mengungkapkannya dengan kata-kata.

Tentu saja, setiap orang berbeda, ada pula pertengkaran yang timbul karena kurangnya ekspresi cinta dari pasangan. Namun, “memahami tanpa kata-kata” adalah bagian unik dari budaya orang Jepang.

Berkencan di Rumah

Ada banyak pasangan di Jepang yang lebih memilih menggunakan hari libur mereka untuk bersantai. Oleh sebab itu, sebagian besar pasangan suka menonton DVD atau bermain game bersama di rumah. Di sisi lain, tampaknya pasangan Barat cenderung menggunakan hari libur mereka sebagai kesempatan untuk beraktivitas di luar, atau berkumpul bersama teman-teman.

Orang Jepang berpikir bahwa menghabiskan waktu berdua dengan pasangan sangatlah penting, hal itu sedikit berbeda dari pasangan Barat yang suka berbagi waktu mereka dengan teman-teman.

Hari Valentine Hari Wanita Mengungkapkan Perasaan

Hari Valentine biasanya digunakan para pria untuk mengajak wanita berkencan. Di Jepang, Hari Valentine lebih umum digunakan wanita untuk memberikan hadiah coklat kepada pria yang disukainya. Bahkan ini menjadi hari yang dinanti-nanti oleh para pria.

Satu bulan kemudian pada tanggal 14 Maret, Jepang memiliki tradisi budaya khusus yang disebut White Day, pada hari inilah para pria membalas memberi hadiah kepada wanita yang memberinya coklat. Selain itu, wanita biasanya juga memberikan coklat kepada orang-orang yang dikagumi atau berjasa dalam hidupnya. Mereka juga sering memberikan tomo-choco (“coklat pertemanan”) kepada teman-teman, atau menghadiahi giri-choco (“coklat kewajiban”) kepada rekan kerja atau atasan mereka.

Tinggal Bersama Sebelum Menikah

Tinggal bersama dianggap sebagai langkah penting sebelum menikah. Di Jepang, ini bukan kebiasaan umum. Baru-baru ini, “semi-kohabitasi” atau semi-hidup bersama mulai banyak dilakukan. Pasangan kekasih biasanya menghabiskan waktu setengah minggu atau akhir pekan bersama, meskipun mereka tidak secara resmi tinggal bersama. Sebagian besar orang berpikir bahwa dengan hidup bersama sebelum menikah tidak akan menjamin terjadinya pernikahan atau membuat situasi pernikahan akan menjadi lebih baik.

Tradisi menyatakan perasaan berfungsi sebagai tahap untuk pasangan dapat memperjelas bahwa mereka secara eksklusif berpacaran sejak awal. Oleh karena hal itu pula, langkah-langkah menuju pernikahan relatif lebih lancar dibandingkan dengan Barat.

Memiliki Kesadaran untuk Menikah

Jika di luar negri, tampaknya pasangan kekasih baru akan memulai memikirkan pernikahan setelah berkencan dan kemudian tinggal bersama. Di lain pihak, pemikiran tentang pernikahan mulai terlihat dari perubahan generasi, orang Jepang memiliki kesadaran yang kuat untuk menikah ketika mereka mencapai usia pertengahan 20-an. 

Ini murni dari sudut pandang wanita di usia 20-an, tetapi ketika seseorang sudah lulus dan memasuki dunia kerja, mereka lebih memilih hubungan jangka panjang yang mengarah ke pernikahan. Sebagian pemikiran ini berasal dari adanya anggapan bahwa menjalin hubungan dengan seseorang yang tidak mengarah kepada pernikahan hanyalah buang-buang waktu. Mengevaluasi pasangan mereka melalui tahap-tahap dalam hubungan adalah sesuatu yang unik bagi wanita Jepang.